People Innovation Excellence

HOAKS DAN KRIMINOLOGI : ULASAN KASUS RATNA SARUMPAET

Oleh AHMAD SOFIAN (November 2018)

Awalnya, saya tidak berminat membuat artikel ringan ini, namun karena sejumlah wartawan dan teman menanyakan maka saya ulas pandangan akademik saya soal yang belakangan ini memunculkan kehebohan di “media sosial” atau kalau mengutip bahasa teman saya “media rakyat”.  Media sosial atau media rakyat sebenanrya memiiki kemiripan hanya saja terminologi “rakyat” terkesan lebih membumi dan berada dalam komunitas akar rumput dibanding terminologi “sosial” yang terkesan berada pada stratifikasi tertentu.

Baiklah, to the point saja, kasus Ratna Sarumpaet. Saya tidak mengenal secara pribadi sosok Ibu Ratna, saya juga tidak pernah bertemu dengan beliau, hanya saja sering melihat melihatnya di media elektronik dan media “rakyat”. Beliau dituduh menyebarkan kabar bohong atau bahasa rakyatnya di sebut hoax. Menyebarkan kabar bohong, jika mengacu pada Undang-Undang ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik) bisa dipidana maksimum 6 tahun dan atau denda paling banyak 1 M, sangat menakutkan juga ya…..

Nah, saya coba anlisis dengan menggunakan pendekatan kriminologi sesuai dengan kapasitas ilmu yang saya miliki. Kriminologi bicara dua hal besar yaitu “sebab sebab seseorang atau sekelompok orang atau korporasi melakukan kejahatan” dan “bentuk hukuman/tindakan yang paling tepat atas kejahatan tersebut”.

Dalam konteks ini, maka diperlukan keahlian dalam menemukan sebab-sebab kejahatan yaitu dengan berbagai pendekatan dan ada kalanya diperlukan ilmu bantu lain misalnya ilmu kedokteran, ilmu psikolog klinis, ahli ITE, ahli balistik dan banyak ahli lainnya.

Berdasarkan hal tersebut maka ada tiga skenario atau kemungkinan sebab-sebab Ibu Ratna Sarumpaet melakukan dan menyebarkan kabar bohong tentang dirinya kepada publik :

(1) Mental Disorder
Dalam sebuah artikel dengan judul “Understanding Relationship Between Mental Disorder dan Violence“. Seseorang melakukan kejahatan karena orang tersebut mengalami apa yang disebut dengan social stress atau memang rationale choice (pilihan rasional). Kedua faktor ini bisa juga dilengkapi dengan “criminal career” pada diri seseorang.

Jika dikaitkan dengan ibu Ratna, sebab dia melakukan kabar bohong tersebut bisa saja karena mengalami stress social, atau memang karena pilihan rasional atau mungkin karir kriminal dalam membuat kebohongan. Pembuktian untuk menemukan sebabnya tentu dilakukan dengan meminta bantuan ahli psikologi kriminal atau psikiater yang mendalami persoalan persoalan deviant

(2) Konspirasi
Konspirasi biasanya dikaitkan dengan kejahatan terorganisir (organized crime). Para aktor tidak kelihatan karena banyak sel-sel yang terselubung. Ada aktor intelektual dan ada aktor materialis. Ada aktor yang tersembunyi sebagai perancang skenario jangka panjang, rapi dan tersismatis. Mungkin saja Ibu Ratna bagian dari konspirasi ini. Konspirasi sangat sulit dibuktikan bahkan dalam banyak kasus membutuhkan waktu puluhan tahun baru kebenaran terungkap, yang kadang kala masih samar-samar juga.

 (3) Daya Paksa
Dalam konteks ini, ada situasi tertentu seseorang melakukan kejahatan karena ada paksaan tertentu yang tidak bisa dihindari. Paksaan tersebut mengancam dirinya, keluarganya atau siapapun yang berada dalam lingkarannya.

Daya paksa ini artinya orang dipaksa melakukan kajahatan bukan karena pilihan rasionalnya (rationale choice). Oleh karena itu, dalam banyak sistem hukum termasuk sistem hukum Indonesia, orang yang melakukan kejahatan karena daya paksa tidak bisa dipidana. Ibu Ratna, mungkin saja dipaksa membuat kabar bohong karena ada tekanan yang luar biasa yang dia tidak sanggup menghadapinya.

Penutup

Tiga kemungkinan tersebut bisa saja terjadi atau akumulasi dari kemungkinan di atas, atau mungkin juga ada kemungkinan lain. Oleh karena itu, dalam menganalisis kasus ini tidak semudah seperti yang dibayangkan. Banyak dimensi yang harus dilihat, apalagi peristiwa ini terjadi menjelang tahun-tahun politik yang semakin panas. Kepentingan para calon dan kepentingan para sponsor harus dipertimbangkan.Semoga artikel ringan dan santai ini tidak dinilai sebagai kabar bohong. Selamat berakhir pekan dan ceria selalu. (***)


 


Published at :

Periksa Browser Anda

Check Your Browser

Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

We're Moving Forward.

This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

  1. Google Chrome
  2. Mozilla Firefox
  3. Opera
  4. Internet Explorer 9
Close