People Innovation Excellence

SEPUTAR PARADIGMA PEMIKIRAN HUKUM

Oleh SHIDARTA (Januari 2015)

Selama beberapa tahun terakhir ini saya diminta untuk mengampu mata kuliah Metode Penelitian Hukum, mulai dari tingkat sarjana hingga doktoral. Hampir pasti, di antara sesi-sesi perkuliahan tersebut akan ada pertanyaan tentang paradigma. Konkretnya apa itu paradigma? Apakah pemikiran hukum juga mengenal paradigma? Mungkinkah mengawinkan beberapa paradigma sekaligus?

Paradigma dipopulerkan oleh Thomas Khun melalui bukunya “The Structure of Scientific Revolutions” (1962). Kuhn menyampaikan sekitar 21 makna tentang paradigma, namun satu di antaranya yang menarik untuk dicermati adalah bahwa paradigma merupakan “… universally recognized scientific achievements that for a time provide model problems and solutions to a community of practitioners.” Kata kunci dari paradigma berarti adalah “model problems and solutions”.

Bernard S. Phillips dalam bukunya “Social Research: Strategy and Tactics” (1971) menagatakan, “A paradigm is a set of assumptions, both stated and unstated, which provides the basis on which scientific ideas rest.” Sementara Earl Babbie dalam buku “The Practice of Social Research” (2001) menyatakan, “A paradigm is fundamental model or frame of reference we use to organize our observations and reasoning.”

Atas dasar itu, kita dapat mengatakan bahwa paradigma adalah model atau kerangka berpikir ilmiah yang menjadi rujukan komunitas tertentu. Kuhn membatasi komunitas ini adalah komunitas para praktisi, sehingga paradigma di mata Kuhn memang lebih bernilai pragmatis. Phillips berpendapat lain, bahwa paradigma adalah rangkaian asumsi yang menjadi dasar suatu gagasan ilmiah. Babbie memberi pengertian yang mencoba menjembatani dengan mengatakan paradigma sebagai model atau kerangka acuan, baik untuk kepentingan observasi (bernuansa konkret dan praktis) maupun penalaran (bernuansa abstrak dan teoretis).

Sebuah gelas yang berisi air setengah volumenya, akan memunculkan pertanyaan apakah gelas itu menampung setengah penuh air atau setengah kosong air. Konon, bagi mereka yang optimistis akan menjawab setengah penuh, sementara yang pesimistis akan menjawab setengah kosong. Inilah yang disebut paradigma, yaitu model berpikir yang memuat asumsi-asumsi untuk kemudian memunculkan gagasan ilmiah tertentu sebagai konsekuensinya.

Dalam pemikiran ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan, kerap ditampilkan tiga kelompok paradigma, yaitu positivisme, interpretif atau fenomenologi (terkadang disebut dengan pospositivisme, naturalisme, atau konstruktivisme), dan kritikal. Kaum positivis memandang objek ada di luar subjek. Oleh karena realitas ada di luar diri si individu yang mengamati, maka diyakini akan ada realitas objektif itu. Sebaliknya, penganut fenomenologi menyatakan realitas justru diciptakan oleh si subjek melalui interpretasi subjektif. Kaum kritikal di sudut lain berpendapat bahwa realitas berada di antara subjektivitas dan objektivitas. Realitas terjadi melalui ketegangan-ketegangan antara subjek-subjek.

Postivisme logis sebagai paradigma ilmu pengetahuan pada umumnya juga menjalar ke ranah disiplin hukum, sehingga dikenal juga adanya paradigma positivisme hukum. Hanya saja, positivisme logis, yang kemudian berkembang menjadi positivisme empiris, memiliki karaktetistik yang berbeda dengan positivisme hukum. Penjelasan mengenai hal ini sudah diungkapkan dalam tulisan saya dalam buku “Metode Penelitian Hukum: Konstelasi dan Refleksi” (2004).

Paradigma dengan demikian juga dikenal dalam hukum. Paradigma di sini lebih diartikan sebagai kecenderungan pengemban (fungsionaris) hukum dalam memaknai hukum, memahami bagaimana hukum dinalarkan, dan menetapkan nilai hukum yang ingin dituju. Di sini ada dimensi ontologi, epistemologi, dan aksiologi hukum. Paradigma hukum harus mampu menawarkan gagasan atas tiga dimensi ini secara sekaligus. Jadi, paradigma hukum pada hakikatnya memiliki fungsi yang sama dengan teori hukum, yaitu berfungsi deskriptif dan preskriptif.

Ronald Dworkin suatu ketika pernah menyebut positivisme hukum dan utilitarianisme sebagai the ruling theory of law. Dworkin ingin mengatakan bahwa di dalam ranah disiplin hukum, positivisme dan utilitarianisme adalah paradigma yang masih kuat bercokol menguasai alam pikiran para pengemban hukum itu.

Saya sendiri lebih cenderung untuk tidak membedakan paradigma di dalam disiplin hukum dengan mengikuti pembedaan sebagaimana dikenal dalam ilmu sosial dan kemanusiaan (humanities). Apabila paradigma di sini lebih dimaknai sebagai model berpikir, maka di dalam disiplin hukum akan lebih tepat ditawarkan enam paradigma, yaitu kelompok-kelompok teori hukum yang juga disebut aliran-aliran pemikiran hukum, yaitu aliran hukum kodrat, positivisme hukum, utilitarianisme, mazhab sejarah, sociological jurisprudence, dan realisme hukum.

Apakah mungkin untuk mengawinkan paradigma-pradigma ini? Jawabannya bisa ya dan tidak. Ya, sepanjang dimensi ontologis, epistemologis, dan aksiologisnya dapat didamaikan, dalam arti tidak bentrok. Positivisme hukum dan realisme hukum memiliki posisi yang berhadap-hadapan secara frontal, sehingga akan sangat bermasalah apabila coba untuk dikawinkan. Lain halnya jika paradigma positivisme hukum dikawinkan dengan mazhab sejarah, yang kemudian dikenal sebagi sociological jurisprudence.

Artinya, dari keenam aliran yang disebutkan di atas, sebenarnya sociological jurisprudence termasuk contoh suatu paradigma hibrida. Sekali lagi, perkawinan paradigma, sekalipun terbilang jarang terjadi, masih dimungkinkan sepanjang landasan filosofisnya dapat dipertanggungjawabkan. (***)


Published at : Updated
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close