Oleh SHIDARTA (Juni 2026)
Ada ungkapan menarik dari fisikawan Jerman, Werner Heisenberg, ketika ia menjelaskan hubungan antara manusia dan teknologi. Menurutnya, hubungan itu dapat diibaratkan seperti laba-laba dan jaringnya. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Jaring laba-laba adalah teknologi yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan si laba-laba (Francis Lim, 2008). Tentu saja, kita bukan laba-laba yang dari waktu ke waktu hanya mampu membuat satu model jaring dengan fungsi tunggal untuk menjebak serangga yang lewat. Sebagai homo faber, manusia adalah pencipta teknologi.
Dari kaca mata filsafat, teknologi memiliki banyak faset. Pada tataran epistemologi, filsafat teknologi berbicara tentang sifat teknologi. Pada tataran metafisika, filsafat teknologi mempersoalkan apa yang alami/tiruan dan manusiawi/tidak manusiawi dari suatu teknologi. Kemudian dari sisi etika, filsafat teknologi mempertanyakan baik buruknya penggunaan teknologi. Juga terdapat persoalan politis, yakni bagaimana manusia hidup dalam masyarakat teknologis, bagaimana teknologi mengubah cara hidup dan relasi sosial, serta siapa yang menentukan kebijakan penerapan teknologi (Yesaya Sandang, 2013).
Terkait dengan penyikapan ini, seorang filsuf Jerman (dari Freiburg dan Berlin) Martin Heidegger (1889-1976), terutama dalam karyanya “The Question Concerning Technology.” mengemukakan sikap eksistensialnya terhadap teknologi. Saya berusaha untuk menggambarkan cara pandang Heidegger itu dengan sebuah ilustrasi sederhana sebagai berikut:
Selain sebagai filsuf eksistensial, Heidegger juga seorang tokoh hermeneutika (kendati ia tidak selalu menggunakan label ini). Dalam filsafat teknologinya, Heidegger juga memakai hermeneutika untuk mencari jawaban terhadap pertanyaan: apa yang dilakukan teknologi terhadap cara manusia berada di dunia? Di satu sisi, Heidegger menekankan manusia sebagai “Dasein,” yang punya kemampuan menafsir, tetapi ia juga membuka ruang bahwa dunia memiliki “ketersingkapan” yang bisa ada di luar manusia. Meski tak eksplisit mengatakan non-manusia menafsir, ada interpretasi bahwa keterbukaan itu tak sepenuhnya milik kita. Mengenai hal ini, akan kita singgung lebih lanjut nanti di bagian akhir tulisan ini.
Menurutnya, teknologi bukan sekadar alat, tapi sebagai cara kita memahami dunia. Teknologi tidak netral. Teknologi berpotensi menjebak manusia ke dalam cara pandang yang terlalu sempit dan melupakan hubungan yang lebih mendalam tentang hakikat keberadaannya. Heidegger memposisikan teknologi sebagai sebuah bingkai. Sebagaimana layaknya sebuah bingkai, ia hanya mampu menyingkap keberadaan realitas (dunia) sebatas bingkai itu saja. Cara penyingkapan sebatas bingkai ini disebutnya sebagai Gestell (enframing).
Menurutnya, teknologi modern cenderung “mendikte” manusia dalam melihat segala sesuatu. Intervensi teknologi masuk dengan cara yang halus, seringkali tidak manusia sadari. Gestell membingkai dunia dengan cara penyingkapan yang kalkulatif. Akibatnya, kita mulai melihat segala hal (termasuk alam semesta, dunia, mahluk hidup, bahkan diri manusia itu sendiri) sebagai sumber daya yang ingin dikontrol dan dioptimalisasi. Pada ujungnya, sumber daya itu hanya menjadi sesuatu yang siap dieksploitasi (standing-reserve; Bestand). Sebagai contoh, teknologi melihat hutan sebatas balok kayu atau hewan yang ada di dalamnya sebagai komoditas belaka.
Jadi, di mata Heidegger: “The essence of technology is nothing technological.” Penyingkapan keberadaan sebatas bingkai teknologis (mode teknologis) pasti mengandung bahaya yang serba-mengerdilkan. Kita bahkan dapat membuat premis, bahwa semakin efisien teknologi, semakin besar risiko manusia kehilangan makna. Oleh sebab itu, Heidegger menawarkan cara pandang yang sekilas seperti mengajak kita kembali ke penyingkapan tradisional di era Yunani Kuno, yang biasanya disebut poeisis. Secara harfiah konsep ini bermakna membiarkan sesuatu hadir menampakkan dirinya (bringing-forth). Tatkala teknologi di era modern menyeruak masuk dalam kehidupan kita, ia tidak lagi hadir dengan cara poeisis, tetapi teknologi itu sudah memaksa, menuntut, mengendalikan, dan mengoptimalkan. Hutan tidak lagi menjadi hutan sebagaimana adanya, melainkan hutan menjadi balok-balok kayu yang dipertanyakan berapa meter kubik banyaknya dan berapa juta dolar dapat dihasilkan jika diekspor?
Filsafat teknologi dari Heidegger kemudian masuk ke suatu konsep yang disebutnya dengan Gelassenheit. Konsep ini muncul terutama dalam karya Heidegger yang lebih akhir, khususnya esai dan pidatonya yang kemudian diterbitkan dalam buku “Discourse on Thinking.”
Tidak ada satu kata yang dapat secara persis menggambarkan apa itu Gelassenheit. Biasanya kata ini diterjemahkan sebagai releasement (melepaskan diri), letting-be (membiarkan sesuatu menjadi dirinya sendiri), serenity (ketenangan batin), atau detached openness (keterbukaan yang tidak terikat). Konsep Gelassenheit ini penting karena menunjukkan Heidegger tidak anti-teknologi. Gelassenheit sekaligus juga suatu sikap yang memungkinkan ruang poiesis tetap terbuka di tengah dunia modern. Sikap inilah yang mampu membuka ruang bahwa dunia memiliki “ketersingkapan” yang bisa ada di luar manusia.
Jadi, Heidegger mengajak kita untuk tetap waspada, agar kita bisa menemukan hubungan yang lebih otentik dengan dunia di luar sekadar fungsi teknis. Bagi Heidegger, teknologi bukan lagi sekadar alat atau mesin, tapi cara atau proses berpikir manusia dalam menyingkap keberadaan. Artinya, hutan tidak sekadar balok kayu. Hutan juga bermakna ekosistem, pusat kehidupan para satwa, warisan budaya, pinjaman dari generasi berikutnya, ruang spiritual masyarakat adat, lanskap estetis, paru-paru dunia, dan masih banyak lagi. Jika Gestell bertanya: “Hutan untuk apa?” maka Gelassenheit bertanya: “Apa yang ingin disingkapkan oleh hutan itu sendiri?” Dengan perkataan lain, Gelassenheit tidak bertanya “Apa kegunaan hutan?”, tetapi “Bagaimana hutan dapat menyingkapkan dirinya?”
Gelassenheit, dengan demikian, pada akhirnya bermuara pada dua jenis penyikapan terhadap teknologi di era sekarang ini: ya atau tidak! Lewat konsep Gelassenheit, Heidegger menyediakan alasan mengapa kita harus menjawab ya, dan mengapa tidak.
Saya ingin menutup tulisan ini dengan merefleksikan penggunaan kecerdasan artifisial sebagai suatu bentuk teknologi. Saya pikir, kecerdasan artifisial itu layak didekati melalui sikap eksistensial Gelassenheit ala Heidegger.
Etika penggunaan kecerdasan artifisial kerap diformulasikan melalui nilai human-centeredness dan inclusiveness. Dua nilai etis ini harus dimaknai dengan sangat hati-hati agar kita tahu pada momentum mana kita harus berpusat pada manusia dan kapan harus inklusif.
Dengan menggunakan pemikiran Heidegger, kita mungkin akan memberi makna human-centeredness sama dengan ide Heidegger bahwa Dasein (manusia) saja yang dapat bertanya tentang “Ada” (Being). Pohon tidak mampu menafsir, burung tidak menafsir, batu tidak menafsir, bahkan kecerdasan artifisial itu juga tidak menafsir. Hanya manusia yang menafsir. Subjek Gelassenheit tetap manusia! Dalam arti ini, Heidegger memang masih cukup antroposentris. Namun, manusia bukan pusat realitas. Heidegger bukan penganut humanisme klasik yang mengatakan manusia adalah penguasa dunia dan alam diciptakan untuk manusia. Heidegger akan mengatakan bahwa manusia adalah penjaga keterbukaan (shepherd of Being). Manusia tidak menciptakan makna, tetapi mendengarkan penyingkapan. Dalam hal ini, yang diperhatikan tidak lagi hanya kepentingan manusia. Kecerdasan artifisial, misalnya, tidak boleh hanya untuk kepentingan manusia semata, melainkan juga untuk kepentingan subjek yang lain. Ia tidak boleh merusak peradaban, mencermari lingkungan, mendiskriminasi penggunanya, dan seterusnya. Nah, pada sisi inilah inclusiveness itu menjadi nilai yang perlu dilekatkan pada kecerdasan artifisial itu. (***)


