Oleh SHIDARTA (Juni 2026)
Pada tulisan sebelumnya kita telah memperkenalkan filsafat teknologi dari Martin Heidegger (lihat tautannya di akhir tulisan ini). Kali ini kita ingin melengkapi pandangan Heidegger itu dengan pemikiran filsuf lain, yaitu Don Ihde.
Don Ihde (1934-2024) adalah seorang filsuf era kontemporer dari Amerika Serikat. Ia dikenal banyak menyoroti filsafat teknologi. Beberapa bukunya yang terkenal berjudul Experimental Phenomenology: An Introduction (1977) dan Technics and Praxis: A Philosophy of Technology (1979). Berbeda dengan Heidegger yang juga berwacana tentang filsafat teknologi dan berpijak dari posisi filsafat eksistensial, Don Ihde memilih lebih berfokus pada pengalaman sehari-hati tatkala kita berhubungan dengan teknologi. Intinya, Jadi, dia lebih menekankan interaksi kita yang konkret dengan alat-alat (teknologi), dan bagaimana alat-alat itu mempengaruhi pengalaman kita. Menurutnya, manusia tidak pernah mengalami dunia secara murni dan langsung; pengalaman kita selalu dimediasi oleh benda-benda, instrumen, dan teknologi. Dengan perkataan lain, ia menegaskan peran teknologi yang memperantarai (memediasi) hubungan kita (manusa) dengan dunia. Ihde menyimpulkan bahwa teknologi itu bisa memperluas persepsi kita tentang realitas (dunia), tapi sekaligus membentuk cara kita memahami realitas. Pengalaman manusia selalu terjadi melalui materialitas teknologi. Inilah yang membuatnya kemudian menyebut dirinya sebagai materialis fenomenologis (phenomenological materialist).
Label ini sendiri berpotensi disalahpahami. Hal ini karena kata “fenomena” itu sangat luas dan tidak semuanya memang perlu dimediasi oleh teknologi. Fenomena seperti kesedihan, ketakutan, atau cinta, tidak bisa dimediasi oleh teknologi. Jadi, benar bahwa tidak semua fenomena bersifat teknologis! Namun, istilah phenomenological tetap tepat disematkan karena Ihde tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa semua fenomena itu adalah fenomena teknologi, tetapi ia ingin mengatakan bahwa jika teknologi hadir, kita harus mempelajari bagaimana teknologi mengubah cara fenomena itu muncul kepada manusia. Label di atas, kembali lagi menekankan skema pemikirannya: Manusia – Teknologi – Dunia. Jika dibaca dari arah sebaliknya, kita dapat mengatakan bahwa dunia hadir kepada manusia melalui berbagai bentuk mediasi teknologi.
Berbeda dengan Heidegger yang cenderung pesimistis mencermati pengaruh teknologi, Ihde tidak melihat teknologi sebagai ancaman metafisik. Ia justru tertarik pada bagaimana teknologi memperkaya pengalaman kita dan membuka banyak kemungkinan. Barangkali kita dapat mengatakan bahwa Heidegger lebih kritis dan melihat bahaya teknologisasi total, sementara Ihde lebih optimistis untuk merayakan beragam interaksi kita dengan teknologi.
Saya pikir, Ihde tetap mewaspadai bahaya dari penggunaan teknologi. Ia memberi catatan bahwa kita harus sadar secara reflektif terhadap peran teknologi. Ia mendorong kita untuk “mempersatukan” teknologi dengan kesadaran kita terhadap konteks, sehingga kita tidak “terjebak” di dalamnya. Bagi Ihde, dengan memahami teknologi sebagai sesuatu yang beragam dan kontekstual, kita bisa tetap kritis, tanpa dibayangi ketakutan berlebihan.
Di atas kita mengatakan bahwa Ihde berbicara tentang keberagaman dan kontekstualitas. Tegasnya, ia menekankan adanya pluralistik kontekstualitas. Keberagaman itu bukan sekadar jenis teknologinya, melainkan juga terkait cara-cara teknologi itu hadir di dalam hidup kita. Di sinilah, ia mengatakan bahwa teknologi itu tidak harus mendominasi atau mengurung cara pandang kita, mengingat teknologi itu bukan satu-satunya cara kita memahami dunia. Pada titik ini, Ihde seperti ingin “mengoreksi” Heidegger yang menuduh teknologi adalah bingkai yang pasti membatasi pemahaman kita terhadap realitas. Menurut Ihde, kuncinya bukan di “alat”-nya itu saja, melainkan bagaimana kita bisa secara reflektif memaknainya. Ihde menekankan bahwa dengan refleksi itu, manusia bisa menjaga keseimbangan, sehingga teknologi tidak menguasai cara kita hidup.
Sehubungan dengan keberagaman dan kontekstualitas itu, maka skema Ihde tentang teknologi yang memediasi manusia dengan dunia, yaitu “Manusia – Teknologi – Dunia” selalu harus dibaca dalam banyak jenis relasi. Artinya, teknologi itu memang tetap ada di tengah, hanya saja pola relasinya dapat berbeda. Untuk itu, Ihde menampilkan empat jenis relasi, yaitu embodiment relation, hermeneutic relation, alterity relation, dan background relation.
EMBODIMENT RELATION menunjukkan teknologi sebagai sebagai perpanjangan tubuh manusia. Skemanya adalah: (Manusia-Teknologi) -> Dunia. Jenis relasi ini menjadikan teknologi itu “transparan” karena manusia tidak memperhatikan alatnya, melainkan dunia melalui alat itu. Sebagai contoh, kacamata, mikroskop, stetoskop, tongkat (bagi seorang tunanetra), dan headset adalah teknologi yang menjadi kepanjangan dari tubuh kita. Ekstremnya kita dapat mengatakan, kita bersetubuh dengan teknologi tersebut. Saat kita berkaca mata, kita tidak sedang melihat kaca mata itu. Oleh sebab itu, bisa terjadi sebuah peristiwa lucu, seseorang mencari-cari di mana ia meletakkan kaca matanya, padahal ia sedang mengenakan kaca mata itu. Relasi kita dengan teknologi keceradasan artifisial yang berfungsi untuk melakukan penerjemahan otomatis atau pengecekan tata bahasa (grammar checker), dapat digolongkan sebagai embodiment relation ini. Hal ini karena fokus kita bukan pada kecerdasan artifisial itu, melainkan pada tulisan yang sedang kita buat.
HERMENEUTIC RELATION adalah relasi ketikka teknologi diposisikan sebagai sesuatu yang harus ditafsirkan. Skemanya: Manusia -> Teknologi -> Dunia. Dalam relasi ini, teknologi menghasilkan tanda atau representasi dan manusia bertugas menafsirkannya. Teknologi seperti termometer, speedometer, EKG, MRI, dan dashboard data menyajikan relasi demikian. Seorang dokter, misalnya, tidak melihat penyakit secara langsung. Ia membaca angka atau simbol-simbol di alat tersebut. Dokter harus menafsirkan simbol itu. Teknologi kecerdasan artifisial juga sering menampilkan relasi jenis ini. Sebagai contoh, analisis data AI atau hasi prediksi AI, adalah simbol-simbol yang perlu ditafsirkan.
ALTERITY RELATION adalah jenis relasi ketiga. Di sini teknologi berposisi sebagai “yang lain” (the Other). Skemanya adalah Manusia <-> Teknologi. Skema relasi ini menarik karena tiba-tiba kita melihat “Dunia” seperti hilang di dalam skema itu. Dunia sebenarnya tidak hilang, tetapi untuk sementara “ditangguhkan” (bracketed) karena perhatian manusia terpusat pada teknologi itu sendiri. Di dalam relasi ini, teknologi diperlakukan seperti entitas yang diajak berinteraksi. Contoh teknologi seperti ini adalah ATM, chatbot, robot, asisten virtual, ChatGPT. Ketika kita berhubungan dengan mereka, kita seperti bertanya, “Menurut ChatGPT bagaimana?” Dan, ia akan menjawab pertanyaan kita dengan cekatan. Jadi, teknologi tersebut menjadi “quasi-other.” Ia jelas-jelas bukan manusia, tetapi ia diperlakukan seperti lawan bicara seperti layaknya manusia.
BACKGROUND RELATION adalah relasi yang menempatkan teknologi untuk bekerja di latar belakang. Dalam relasi ini, teknologi sudah tidak lagi disadari karena kita berfokus pada dunia. Namun, relasinya berbeda dengan relasi yang pertama. Teknologi seperti AC adalah contoh yang paling tepat. Kita menikmati sejuknya udara di dalam suatu ruangan, tanpa perlu memikirkan teknologi penyejuk yang sebenarnya ada di latar belakang kesejukan yang kita rasakan. Atau teknologi WIFI, membuat kita larut untuk tidak lagi memikirkan WIFI-nya, melainkan menikmati kemudahan berselancar di dunia maya. Teknologi bekerja diam-diam di panggung belakang.
Nah, ketika kita harus menggambarkan skemanya, saya menemukan situasi yang agak problematis. Hal ini karena tatkala teknologi itu dijadikan latar belakang, maka ia melatarbelakangi siapa/apa? Melatarbelakangi manusianya, atau dunianya, atau justru relasi di antara keduanya? Saya cenderung lebih setuju untuk menempatkan relasinya menjadi: Manusia -> (Teknologi-Dunia). Pertama, skema ini secara ekstrem memposisikan relasi ini kontradiksi dengan relasi yang pertama (embodiment relation). Pada relasi pertama, yang bersetubuh adalah manusia dengan teknologi. Pada relasi yang keempat ini, yang bersetubuh justru adalah dunianya. Posisi “teknologi” sebagai mediator, tetap diletakkan di tengah, antara manusia dan dunia.
Kalau kita bandingkan dengan Heidegger, tampaknya ia lebih memposisikan relasi pada jenis yang terakhir ini. Teknologi telah membingkai kita dalam memandang dunia. Akibatnya, dunia terbatas hanya pada bingkai yang sudah dibentuk teknologi. Sebagai contoh, ketika tiba pertama kali berada di kota Bandung, kita bisa saja mengklaim suhu udara di kota tersebut jauh lebih sejuk daripada di Jakarta, tanpa kita sadari bahwa ternyata ada AC raksasa yang dihembuskan di sekitar tempat kita berdiri. Heidegger cenderung melihat satu bahaya besar (Gestell) dari relasi demikian, sedangkan Ihde melihat banyak kemungkinan relasi. Teknologi bisa sebagai alat kepanjangan tangan kita (embodiment), sebagai teks yang ditafsirkan (hermeneutic), sebagai lawan bicara (alterity), atau sebagai sistem tak terlihat (background). Dan justru karena pluralitas inilah Ihde lebih optimistis daripada Heidegger. Karena bagi Ihde, tidak ada satu “hakikat” teknologi yang tunggal. Teknologi selalu bergantung pada relasi yang sedang berlangsung antara manusia, teknologi, dan dunia. (***)
Klik tautan berikut: FILSAFAT TEKNOLOGI HEIDEGGER.

