Jakarta, 11 Juni 2026, sejumlah mahasiswa Business Law BINUS berkesempatan menghadiri secara langsung program dialog televisi Dua Sisi yang disiarkan oleh tvOne. Pada episode kali ini, diskusi mengangkat tema “Intrik AS akan Untungkan Iran di PD 2026? Ini Kata Pangeran Siahaan”, yang membahas berbagai kontroversi di balik penyelenggaraan Pesta Sepak Bola Dunia 2026.
Diskusi tersebut menyoroti dinamika penyelenggaraan turnamen yang untuk pertama kalinya digelar di tiga negara tuan rumah, yaitu Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Di tengah kemeriahan kompetisi, sejumlah isu menjadi sorotan publik internasional, termasuk laporan mengenai pembatasan akses bagi Tim Nasional Iran ke wilayah Amerika Serikat yang disebut hanya diperbolehkan masuk pada hari pertandingan, serta pencabutan jatah tiket bagi sebagian pendukung Iran. Selain itu, wasit asal Somalia, Omar Artan, dikabarkan tidak dapat memasuki wilayah Amerika Serikat karena kebijakan imigrasi yang berlaku.
Berbagai perkembangan tersebut memunculkan perdebatan mengenai batas antara kepentingan politik dan olahraga. Diskusi dalam program Dua Sisi mengulas apakah kebijakan keamanan yang diterapkan negara tuan rumah dapat dibenarkan dari sudut pandang kedaulatan negara, atau justru bertentangan dengan nilai-nilai universal olahraga yang menjunjung persatuan dan sportivitas.
Acara ini menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang, antara lain Tommy Welly selaku pengamat sepak bola, Budiman Sudjatmiko, Pangeran Siahaan, serta Hendri Satrio. Para narasumber menyampaikan pandangan dan analisis mengenai dampak kebijakan politik terhadap jalannya kompetisi olahraga internasional serta implikasinya terhadap citra penyelenggaraan turnamen.
Kehadiran mahasiswa Business Law BINUS dalam kegiatan ini menjadi pengalaman berharga untuk melihat secara langsung bagaimana isu-isu hukum, politik, hubungan internasional, dan olahraga saling beririsan dalam ruang diskusi publik. Melalui partisipasi tersebut, mahasiswa memperoleh wawasan mengenai pentingnya memahami berbagai persoalan kontemporer dari perspektif multidisipliner, sekaligus mengembangkan kemampuan berpikir kritis terhadap isu-isu global yang sedang berkembang. (***)

