People Innovation Excellence

PERSPEKTIF TIGA DUNIA DARI KARL POPPER (BAGIAN PERTAMA DARI DUA TULISAN)

Oleh SHIDARTA (Juni 2015)

Pada tanggal 7 April 1978 Karl Raimund Popper diundang memberikan kuliah umum di Universitas Michigan. Filsuf kelahiran Wina (1902) ini membawakan satu topik yang terkesan sangat sederhana, di bawah judul ‘Three Worlds’ (tiga dunia). Topik ini menarik. Saya sendiri sering menggunakan materi ceramah Popper ini sebagai referensi guna mengajak mahasiswa peserta mata kuliah Filsafat Ilmu di tingkat pascasarjana mendeteksi posisi visi keilmuan (science vision)  atas disiplin ilmu yang mereka tekuni.

Tiga dunia yang dikemukakan oleh Popper secara singkat dapat dipaparkan sebagai berikut. Dunia pertama disebut Popper sebagai dunia fisik (physical world). Penghuni dunia fisik ini bisa dibedakan secara sederhana menjadi berbagai benda di alam ini, baik benda hidup maupun mati. Energi yang ada di alam semesta ini dapat juga digolongkan sebagai benda di dunia fisik. Selanjutnya adalah dunia mental atau psikologis (mental or psychological world), yang berkisar pada perasaan, pemikiran, pandangan, atau penilaian. Pada dunia kedua ini terdapat mental yang berada di alam sadar dan bawah sadar, atau bisa pula berupa alam psikologis manusia dan alam psikologis hewan. Dunia ketiga adalah dunia produk pemikiran manusia, yang di situ terdapat segala hasil kreasi manusia, seperti bahasa, rumus, teori, seni, teknologi, dan seterusnya. Pada dunia ketiga ini dapat dibedakan antara buah karya manusia berupa produk yang riil dan fiktif,

Saya tertarik untuk melakukan refleksi terkait perspektif tiga dunia dari Karl Popper tersebut. Refleksi ini bertolak dari pandangan Popper tetapi boleh jadi di sana sini tidak lagi sepenuhnya mengikuti alur cerita yang ditawarkan oleh Popper dalam ceramahnya. Bagian pertama dari tulisan ini akan berbicara tentang konsep tiga dunia dari Popper, sementara pada bagian kedua nanti akan diulas bagaimana visi keilmuan pada ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu kemanusiaan dapat diposisikan. Berangkat dari pembahasan itu, akan diproyeksikan tempat ilmu hukum dogmatis (dogmatika hukum) dalam konstelasi tiga dunia Popper ini.

Para ilmuwan tentu senang berbicara tentang fakta. Semua yang faktual harus berada dalam ruang dan waktu. Fakta ada di dunia pertama. Kendati demikian, tatkala orang berbicara tentang dunia pertama, dunia ini adalah dunia yang diterima sebagai apa adanya. Kritik tidak selayaknya diajukan terhadap dunia pertama ini. Kita tidak dapat mengritik matahari yang terus menyinari bumi, atau mengritik bumi yang hanya memiliki satu bulan. Kita juga tidak dapat mengritik lautan, sungai, batu, dan seterusnya. Semua kita terima apa adanya sebagai dunia fisik yang tersaji secara alamiah.

Kritik terhadap dunia kedua juga belum bisa dilakukan karena dunia ini masih berada dalam di alam mental-psikologis. Dalam ilmu hukum bahkan dikenal ungkapan ‘cogitationis poenam nemo patitur” yang bermakna tiada hukuman bagi sesuatu yang baru dipikirkan. Kritik baru dimunculkan pada dunia ketiga, ketika hasil pemikiran manusia itu berwujud dalam artikel di jurnal, buku teks, peraturan perundang-undangan, kebijakan pemerintahan, putusan pengadilan, pidato pejabat, kuliah, dan sebagainya. Dunia ketiga ini juga menampung produk-produk pemikiran manusia seperti alat-alat teknologi, pesawat, dan fasilitas kehidupan.

Pada dunia kedua dan ketiga, peran bahasa menjadi sangat penting. Manusia berpikir melalui bahasa. Manusia mengalihwujudkan pemikirannya yang semula abstrak menjadi makin konkret, juga dengan bahasa. Tanpa bahasa manusia tidak dapat berinteraksi dengan manusia yang lain. Interaksi itu akan efektif dan efisien dengan alat komunikasi yang disebut bahasa. Karena produk pemikiran ini sudah dibahasakan, maka ia sudah siap menjadi objek kritik.

Pertanyaannya adalah apakah produk yang menempati dunia ketiga ini tidak juga sesungguhnya menjadi anggota dunia pertama? Jawabnya ya. Ketika produk pemikiran itu hadir menjadi fakta yang mengkonteks di dalam ruang dan waktu, ia harus siap untuk dialihkan ke dalam perbendaharaan dunia pertama. Namun, ada perbedaan yang penting dibandingkan dengan dunia pertama yang orisinal (tanpa kritik) karena produk pemikiran pada dunia ketiga ini adalah produk yang siap (terbuka) untuk difalsifikasi. Popper meyakini kita bahwa produk dunia ketiga ini adalah fakta-fakta baru yang lebih dihargai karena ia lahir dari rahim dunia kedua. (***)

Baca Bagian Kedua: Tiga Dunia Karl Popper dan Visi Keilmuan (Bagian Terakhir dari Dua Tulisan)


 

Screen.Shot.2015.05.05.at.07.08.34

 

 


Published at : Updated

Periksa Browser Anda

Check Your Browser

Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

We're Moving Forward.

This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

  1. Google Chrome
  2. Mozilla Firefox
  3. Opera
  4. Internet Explorer 9
Close