Loading
Loading...
Menu BINUS

REFLEKSI VIRTUE SIGNALING JELANG HARI TANI NASIONAL 2026

Oleh DEBORA JESSICA DESI DERIA TANYA (September 2026)

Beberapa hari jelang Hari Tani Nasional, ada sekelompok anak muda yang telah begitu gaduh dari pagi hingga larut malam mempersiapkan suara-suara mereka. Konon, mereka itu tergabung dalam FMN dan AGRA. Tetapi, mungkin jumlahnya tidak seberapa jika dibandingkan dengan anak-anak muda yang “autis” sosial. Hal ini kudengar dari sebuah gerutu yang mengudara siang itu. Orang itu merasa kecewa, mahasiswa seperti tidak memiliki empati dan solidaritas untuk sekadar memindah jam perkuliahan mereka demi mendukung aksi Hari Tani. Padahal, beras yang mereka kemudian konsumsi sebagai nasi tak lepas dari jerih payah petani. Lebih prihatinnya lagi, hukum agraria yang sehari-hari dibahas dalam ruang kelas tidak mungkin dilepaskan dari konteks perjuangan para petani. Saya terdiam dan termenung. Ada apa dengan dunia hari-hari ini?

Jika dipikir-pikir, berita tentang bencana yang dialami sesama kita tak kurang limpah ruah tersaji di beranda media sosial dan mengetuk keras batin kita untuk peka. Pekik ketidakadilan dan kritik terhadap kinerja pemerintah juga berlangsung riuh di kolom-kolom komentar. Tetapi, mengapa sajian-sajian itu seperti tak begitu nyata mendidik, seperti memupuk solidaritas yang nyata, bahkan untuk sebatas menyadari bahwa bersambung-tidaknya hidup mereka juga bergantung pada petani. Memang mereka bisa saja diminta menyebutkan puluhan pengalaman ketidakadilan apa yang mereka bersama alami, lengkap dengan figur-figur yang mesti dimintai pertanggungjawaban. Tetapi, apakah kelimpahan pengetahuan itu berbanding lurus dengan kepekaan nyata pada satu tragedi? Mungkin, di sinilah virtue signaling bekerja dalam rupa yang jauh lebih samar dari sebatas pencitraan.

Saya masih merasa yakin, mereka yang menorehkan komentar kritis di media sosial itu merasa keprihatinan terhadap sesama. Bahkan mereka seperti menolak cepat tenggelam dengan kabar-kabar lainnya dengan terus mengungkit apa yang sekiranya dapat dikritisi, seperti halnya kegaduhan mereka menguliti Maudy Ayunda dengan ajaran mindfulness yang ditebarkannya di dapur dengan interior mewah itu. Saya melihat banyak anak muda yang muncul, kritis, tak sebatas menyuarakan ketidaksetujuan, melainkan juga secara mendalam menulis artikel memuat argumen-argumen atas ketidaksepakatannya. Tetapi, mungkin yang kini menjadi pertanyaan adalah dari akar mana suara-suara kritis itu berasal? Inilah titik peliknya. Di era digital dan media sosial, kebijaksanaan bukan sesuatu yang dimonopoli oleh sosok nabi atau agamawan saja seperti dulu. Sekarang, semua orang bisa bertindak bijaksana, boleh jadi karena ikut-ikutan dengan pendapat kerumunan, refleksi pribadi, bacaan yang menggugah nurani, atau solidaritas dalam kelompok gerakan tertentu. Persis, di sini saya mulai menyadari apa yang dikatakan seseorang pada saya, kira-kira begini “bisa saja seseorang itu menyalin persis apa yang dikatakan, tetapi menyalin pengalamannya, tentu tidak bisa. Dan inilah yang tidak bisa dibohongi”.

Dewasa ini, kebijaksanaan menjadi sesuatu yang mudah bagi orang-orang “menyalin”-nya (copy) tanpa harus membuat dirinya sama dengan rupa kebijaksanaan itu. Jika sekilas dilihat, mungkin saja suara kebijaksanaan itu sama mendalam dan kritisnya, tetapi akar epistemologis dan ontologis, seperti pengalaman live-in dalam kurun waktu berbulan-bulan bersama masyarakat akar rumput dan setiap harinya mendampingi masyarakat kecil melawan perusahaan raksasa yang siap kapan saja mencaplok tanah mereka, tidak akan begitu saja dapat “disalin” oleh orang-orang yang mendapat panggilan solidaritasnya seraya rebahan di kasur dan kamar ber-AC saat malam minggu.

Demikian halnya menyoal dengan teologi makan. “Teologi” di sini bukan hanya soal agama, tetapi dalam konteks “teologi makan”, ini tentang bagaimana seseorang memaknai aktivitas makan lebih dari sekadar pemenuhan kebutuhan biologis. Ada dimensi yang lebih mendalam, seperti etis hingga spiritual. Barangkali, bagi banyak orang, kebutuhan untuk mereka dapat menyantap nasi tiap harinya merupakan sesuatu yang wajib dijamin oleh keluarga di mana kita dilahirkan, atau dalam skala yang lebih besar dijamin oleh negara. Memandangnya sebagai keharusan telah mengikis penghayatan dalam aktivitas makan yang sesungguhnya melibatkan proses pelik yang agaknya jarang disadari, mulai dari peluh petani di bawah terik matahari, harapan akan hujan yang turun, perjuangan melawan hama, doa agar panen lancar, juga perlukaan hak ketika berkonflik dengan perusahaan besar. Semua itu sejatinya terhubung dengan nasi yang terhidang di hadapan kita dan menyambung hidup kita, tetapi permenungan itu terlewat begitu saja ketika uang seperti memangkas semua proses itu menjadi transaksional, sehingga tiap butir nasi yang masuk ke perut tak menyisakan atensi emosional yang sejatinya ada dalam tiap suapan. Apalagi ketika aktivitas makan itu dibersamai dengan aktivitas menonton. Ruang kontemplasi yang menghubungkan kita dengan solidaritas petani tak lagi tersisa.

Saya menyadari, tulisan ini bisa saja terjatuh dalam virtue signaling juga, terlebih saya tidak memiliki pengalaman yang membawa jantung saya berdebar kala membela hak-hak masyarakat kecil berhadapan dengan korporasi, atau turun ke jalan, berlarian saling melindungi sesama dari intaian dan gesekan dengan aparat. Mungkin juga bagi mereka, tulisan ini tidak layak dan tak berbeda dengan akar lemah yang memperlihatkan dirinya besar, padahal tumbuh secara karbitan. Tetapi, pikir saya, setidaknya dengan tulisan ini, saya tidak memilih mendiamkan kegelisahan itu dan menutupinya dengan kecukupan hidup yang saya jalani, melainkan membiarkannya menjadi jejak dan proses memupuk empati dari menara gading. Memang, kata mereka, berada di menara gading adalah pencapaian tertinggi yang membuatnya terhormat. Tetapi, saya juga ingat bahwa apa yang terlalu terang itu menyilaukan dan sama membutakannya dengan yang terlalu gelap. Besar harapan saya studi hukum agraria tidak membuat kacang lupa kulitnya (***)


Tinggalkan Komentar

Komentar Anda akan ditampilkan setelah melalui proses moderasi.