Loading
Loading...
Menu BINUS

[SEKILAS] MENILIK PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN

Oleh DEBORA JESSICA DESIDERIA TANYA (Juli 2026)

Saat sedang perjalanan di dalam kereta sembari membaca buku Analek Konfusius, saya melihat betapa Konfusius menekankan hierarki dalam tatanan keluarga hingga negara. Memang, pada waktu itu hierarki dianggap cukup solutif sebagai tawaran atas kekacauan semasa hidup Konfusius. Lembar demi lembar yang saya baca membuat saya terpikir, “mengapa tradisi antara guru dan murid sedemikian lekat hierarkinya?”. Ingatan saya kemudian melanting ke masa-masa perkuliahan S-1. Pada waktu itu, pengajar saya begitu bangga karena pernah diajar oleh tokoh besar di bidang hukum, memajang foto tokoh tersebut beserta tokoh-tokoh sebelumnya, dan tak lupa foto dirinya sebagai sosok penerus para guru itu. Dahulu, rasanya tidak ada yang janggal dengan itu. Saya hanya sebatas melihatnya sebagai bentuk penghormatan yang lazim seorang murid terhadap gurunya yang berjasa besar bagi pengembangan intelektualnya. Tetapi, seiring bertambahnya usia, hal tersebut menjadi sesuatu yang memantik benak saya untuk mempertanyakan, “mengapa ada kebanggaan menjadi penerus?”, “apakah ini dapat berkembang menjadi pengkultusan pribadi?”.

Penasaran, saya pun memanfaatkan ChatGPT untuk berdiskusi sebagaimana dilakukan beberapa orang kala ia mungkin malu bertanya atau mendaku keliaran pikirannya (mengingat, tidak semua orang bisa menerima betapa berisiknya kegelisaha pikiran kita). Saya memulai percakapan dengan asumsi bahwa, “mengapa di Barat pengembangan ilmu pengetahuan berlangsung lebih egaliter, sementara di sini terkesan feodalistik?”.

Rupanya kegelisahan serupa juga mewarnai ruang diskusi sosiologi ilmu pengetahuan, persisnya bagaimana budaya akademik memengaruhi bagaimana ilmu berkembang. Meski, tentu saja, generalisasi bahwa Barat senantiasa lebih kritis, sementara Timur senantiasa feodal merupakan kesimpulan yang prematur.

Dalam sebagian tradisi akademik modern Barat, penghormatan terhadap tokoh diwujudkan dalam kritik atas pemikirannya, seperti pemikiran Hart dikritik oleh muridnya, Joseph Raz. Benang diskursus tersebut sebenarnya memperlihatkan bahwa pemikiran terdahulu diterima sebagai inspirasi, tetapi kemudian juga dikritisi. Artinya, ia tidak berhenti dirayakan sebagai pemikiran yang agung dan layak diteruskan, melainkan pemikiran yang tetap membuka celah untuk ditelaah kelemahan atau kekurangannya.

Sedangkan dalam tradisi akademis yang cenderung hierarkis, seperti di Indonesia dan sejumlah negara di Asia, hubungan personal dengan sosok guru terasa lebih dominan. Kebanggaan dapat memahami, menghafal, hingga mewariskannya serta mendaku sebagai “murid tokoh A” atau “penerus mazhab X” seringkali menjadi puncak pencapaian akademik, salah satunya dalam bidang hukum pidana di Indonesia. Meski generasi terus berganti, tetapi karya-karya pendahulu cenderung menjadi rujukan otoritatif. Konsep-konsep yang pernah diajarkan terus diwariskan. Kalau pun ada perubahan, kerapkali untuk kontekstualisasi, bukan kembang-kritik. Mungkinkah sopan-santun terhadap guru atau pendahulu sedemikian kuat mengakar hingga perbedaan pandangan mesti dibalut dengan dalih “pengembangan” dibanding ketidaksepakatan yang melahirkan pengembangan?

Memang, tradisi tersebut bisa membuat kekayaan dan identitas keilmuan terjaga. Namun, pengembangan ilmu pengetahuan berpotensi menjadi kurang dinamis, karena penjagaan terhadap ilmu pengetahuan warisan pendahulu telah “membeku” menjadi pengkultusan secara diam-diam. Menjadi penerus jelas bukan masalah. Dalam tradisi sains pun semua ilmuwan adalah penerus pendahulunya. Tetapi, menjadi penerus bukanlah tujuan akhir, melainkan titik awal untuk upaya pengembangan lebih lanjut.

Jejak serupa bisa dilacak pada tradisi filsafat Tiongkok kuno, seperti Taoisme. Pemikiran Zhuang Zi memang memiliki penekanan yang berbeda dengan pemikiran Lao Zi. Tetapi, pemikiran Zhuang Zi merupakan upaya perluasan sekaligus radikalisasi terhadap Taoisme yang dikonstruksi Lao Zi. Bagaimana dengan Meng Zi terhadap gurunya, yakni Kong Zi (Konfusius)? Nuansanya serupa, Meng Zi mengembangkan pemikiran Kong Zi. Bahkan dalam kalangan Legalis pun, Han Fei Zi, Li Si merupakan penerus pemikiran guru mereka, Xun Zi.

Sekilas, hubungan guru dan murid tampak harmonis. Namun, sebagaimana Yin dan Yang dalam Yin Yang Jia, relasi yang hidup bukanlah relasi yang berhenti pada keselarasan atau peniruan. Ia adalah relasi yang memberi ruang bagi perbedaan, saling mengoreksi, dan saling mentransformasikan sehingga melahirkan bentuk-bentuk pemikiran baru. Sebagaimana dikatakan dalam Dao De Jing: “Dao melahirkan Satu. Satu melahirkan Dua. Dua melahirkan Tiga. Tiga melahirkan sepuluh ribu makhluk.” Dengan demikian, kesetiaan terhadap seorang guru bukanlah pengulangan, melainkan kemampuan melahirkan kemungkinan-kemungkinan baru dari warisan yang diterimanya, yakni dengan keberanian mencari kelemahan, di tengah kekaguman, salah satunya melalui kritik.

Di Indonesia, kritik memang belum terlalu bisa diterima dengan lapang dada. Kritik seringkali dianggap beririsan dengan ketidaksukaan secara personal dibandingkan ketidaksetujuan terhadap argumen. Bukan hal biasa, bagaimana seorang pengajar merasa tidak nyaman manakala peserta didiknya memiliki pendapat berbeda atau tidak sepakat tentang satu hal yang diajarkan. Ada semacam pandangan bahwa usia seseorang menentukan kekayaan pengalaman, eksplorasi, dan wawasannya, sehingga yang masih muda “sepatutnya” mengikuti yang lebih berpengalaman. Digugu lan ditiru.

Perbandingan yang juga menarik adalah penghargaan terhadap ilmu pengetahuan nampaknya memiliki nuansa yang berbeda antara Barat dan Timur, demikian asumsi saya sebelum melemparkannya ke ruang diskusi dengan ChatGPT. Misalnya, sosok Craig LeHoullier. Ia merupakan pakar tomat. Bukunya pun best seller, judulnya “Epic Tomatoes”. Bahkan ChatGPT pun tertawa meringis “hehe…” saat saya membahas pemikiran holtikulturisnya tentang tomat, setelah saya berdiskusi soal Hart, Kong Zi, Lao Zi, hingga Xun Zi. Mungkin, ia berasumsi betapa “random”-nya percakapan ini atau dia menertawakan karena tomat hampir sesuatu yang tidak memerlukan sosok pakar untuk memahaminya. Barangkali, sebagian dari kita pun akan berada di posisi kedua, terkejut dan menertawakan sambil mempertanyakan, “buat apa sih meneliti tomat?”. Tomat hanya perlu kamu konsumsi, menjadi bahan pembuatan sambal, jus, atau masakan lain. Tapi, coba lihat bagaimana LeHoullier melihat tomat, jauh lebih menakjubkan. LeHoullier berulang kali menekankan bahwa dunia tomat modern terlalu didominasi oleh sedikit varietas komersial yang dipilih karena tahan pengiriman, bentuk seragam, umur simpan panjang, produktivitas tinggi. Akibatnya, ribuan varietas lokal (heirloom tomatoes) hampir hilang.

Pemikiran LeHoullier hanya satu contoh yang saya angkat sebagai awal bagi pembahasan lebih lanjut, bagaimana tradisi akademik berpengaruh terhadap bagaimana kita melihat dunia sekitar kita. Tanpa bermaksud merendahkan yang satu dan meninggikan yang lain, di banyak universitas Barat, ada orang yang mendedikasikan hidupnya untuk meneliti satu spesies tanaman, satu kelompok kumbang, satu jenis jamur, atau bahkan satu protein. Di sinilah spesialisasi mendapat penghargaan yang tinggi. Pakar tomat mendapat penghormatan lebih tinggi di sana daripada di sini. Pengetahuan terspesialisasi ini, meski terlihat sempit, sejatinya memiliki peran penting dalam melihat sesuatu yang mikroskopik-namun berpengaruh.

Tentu, kita tidak boleh menegasikan bahwa ini sebatas dimiliki oleh tradisi Barat. Pada banyak laboratorium di Eropa atau Amerika saat ini, penelitinya justru datang dari Indonesia, Tiongkok, India, Jepang, Korea Selatan, dll. Artinya, ekosistem-lah yang memberi ruang bagi rasa ingin tahu, spesialisasi, kebebasan bertanya dan mempertanyakan, serta penghargaan terhadap keahlian. Tidak ada pengetahuan yang terlalu kecil untuk ditekuni.

Membaca dan memahami pemikir-pemikir terdahulu tetap penting. Darinya inspirasi seringkali lahir untuk berkembang menjadi penemuan hebat atau pemikiran berpengaruh, entah berujung ke ideologi, agama, atau mazhab. Tetapi, nasehat ChatGPT ada baiknya juga kita renungkan: Be loyal to the truth, not to the thinker. (***)


Tinggalkan Komentar

Komentar Anda akan ditampilkan setelah melalui proses moderasi.