People Innovation Excellence

CUDOS

Oleh SHIDARTA (Januari 2024)

Mungkin ada di antara kita yang pernah mengagumi sejumlah ilmuwan yang dulu memiliki pikiran bernas dan terbilang objektif, tetapi pada satu titik tertentu, kita mendapati orang yang kita kagumi itu telah berubah karena pandangannya kini menjadi partisan, dalam arti pragmatis, sesuai pesanan. Perubahan seperti ini dapat disebabkan berbagai alasan. Salah satunya, sangat mungkin karena mereka kini bergabung dalam barisan pendukung caleg atau capres tertentu yang tengah berlaga di kancah perpolitikan nasional.

Jika pada musim pemilu lima tahun lalu mereka menyerang habis-habisan kubu lawan, maka karena perubahan peta politik, sekarang mereka justru membela mati-matian pihak yang dulu pernah diserang itu. Begitulah! Kita mencermati, sekalipun sang figur dari kelompok yang diusung membuat kekeliruan, para pakar yang dimintai pendapatnya harus berani pasang badan sebagai “bumper” guna mencari argumen pembenarannya. Mereka kerap mengemukakan pendapat masing-masing tanpa meninggalkan atribut kepakaran mereka, sehingga terkesan pemikiran itu sejalan dengan latar belakang keilmuan yang dimiliki.

Apakah ada yang salah dari sikap ilmuwan untuk menjadi partisan dan pragmagis? Jika pertanyaan ini diajukan ke para sofis yang hidup di era Socrates, mereka akan memberi permakluman karena, menurut kelompok ini, tidak pernah ada ukuran kebaikan yang universal. Di kutub berseberangan ada Socrates yang meyakini tentang objektivitas kebaikan dan kebenaran.

Di tengah bertaburannya pembenaran yang mengatasnamakan kebenaran, kita mungkin perlu mencari pegangan seperti apa seorang ilmuwan seyogianya bersikap. Pencarian ini membawa kita pada sosiolog Robert K. Merton (1973), yang pernah menawarkan empat hal yang di kemudian hari dikenal sebagai Mertonian Norms. Empat hal itu disingkatnya menjadi CUDOS, yaitu akronim dari: communalism, universalism, disinterestedness, dan organized skepticism. Kita dapat menggunakan norma-norma ini sebagai batu penguji untuk menakar keyakinan kita berkenaan dengan predikat keahlian mereka (atau diri kita sendiri).

Komunalisme membawa pesan agar siapapun yang mengaku menjadi ilmuwan harus memperlakukan pengetahuan ilmiah yang didapatnya itu sebagai lahan terbuka untuk diakses dan tidak boleh ada hambatan terhadap arus informasi di kalangan ilmuwan. Norma ini berbicara tentang hubungan di antara sesama anggota komunitas ilmuwan, bahwa seorang ilmuwan tidak boleh menyembunyikan, apalagi sampai memanipulasi fakta. Komunalisme memungkinkan ada atmosfer saling mengawasi, sehingga terjaga integritas keilmiahan itu.  

Norma kedua adalah universalisme. Dalam hal ini ilmuwan harus menerima posisi pengetahuan ilmiah sebagai pengetahuan yang bebas dari prasangka. Kapasitas seorang ilmuawan tidak diukur dari latar belakang warna kulit, keturunan, kedudukan sosial, keyakinan agama, ideologi, dan/atau kecenderungan politik. Kapaitasnya diukur dari kontribusi yang diberikan. Jika seorang ahli masih ingin mempertahankan predikatnya sebagai ilmuwan, ia harus siap menerima pendapat pihak manapun yang menyuarakan kebenaran, kendati tidak berasal dari kubu yang sama dengan dirinya.

Disinterestedness adalah norma ketiga yang dipesankan oleh Merton. Kata ini secara harfiah berarti “ketidaktertarikan,” tetapi lebih pas sebenarnya dimaknai sebagai objektivitas. Norma ini meminta setiap ilmuwan untuk menghormati  objektivitas pengetahuan illmiah, terlepas dampaknya akan menguntungkan atau tidak menguntungkan bagi suatu kelompok. Tidak boleh ada kepentingan eksternal, seperti kekuasaan, uang, atau bahkan ideologi sekalipun, yang mampu membuat pengetahuan ilmiah bertekuk lutut menyesuaikan diri dengan kepentingan itu. Objektivitas ilmiah tidak dapat dibeli dengan tawaran kekuatan eksternal apapun di luar keilmiahan itu sendiri.

Terakhir, adalah skeptisisme terorganisasi, yang mengandung arti bahwa pengetahuan ilmiah harus dapat dipertanyakan atau diuji kebenarannya. Dengan perkataan lain, pengetahuan ilmiah tidak boleh diterima begitu saja hanya karena kita mengikuti tradisi atau otoritas tertentu. Norma terakhir ini mengingatkan kita pada karakteristik falsifikasi dari Karl Popper. Ini berarti, setiap ilmuwan seharusnya berusaha keras agar pendapatnya disampaikan secara argumentatif, sehingga pendapatnya itu memiliki nilai kebenaran yang orisinal.

Mertonian Norms di atas, apabila disaripatikan, berfokus pada perlunya pengetahuan ilmiah yang menjunjung tinggi semangat berbagi, imparsialitas, objektivitas, dan evaluasi kritis. Merton menambahkan juga aspek kerendah-hatian atau kesantuan intelektual (humility; intellectual modesty), sebagai etos ilmiah. Kerendah-hatian memberi pesan agar ilmuwan sadar bahwa pendapatnya sangat mungkin keliru, sehingga semuanya wajib ia sampaikan secara santun tanpa perlu mempermalukan sesama rekan diskursus.

Jadi, CUDOS ini dapat membantu kita mengintrospeksi diri. Jangan-jangan kita sendiri selama ini kerap berperilaku sama seperti para politisi yang berlagak ilmuwan atau ilmuwan yang berlagak politisi.  Wallahualam. (***)



Published at :
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close