People Innovation Excellence

BEKERJA ONLINE DAN BELAJAR ONLINE

Oleh BAMBANG PRATAMA (Maret 2020)

Salah satu upaya pencegahan wabah penyakit Covid-19, pemerintah mengambil langkah antisipatif dengan cara mengisolasi masyarakat untuk tetap di rumah dan menghindari perkumpulan banyak orang. Di lain pihak, langkah pengisolasian masyarakat tetap perlu menjaga aktivitas di masyarakat, baik itu kegiatan belajar mengajar, kegiatan ekonomi, dan kegiatan lainnya. Akibatnya bagi kalangan masyarakat yang bekerja, tetap diwajibkan untuk bekerja, namun pekerjaannya dilakukan dari rumah atau dikenal dengan sebutan work from home (WFH). Salah satu sarana yang digunakan untuk dapat melakukan pekerjaan yang bisa dilakukan di rumah tentunya dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi. Oleh sebab itu, memunculkan pertanyaan mendasar tentang apa saja yang bisa dilakukan di rumah dan apa saja yang tidak bisa dilakukan di rumah?

Sejatinya dinamika beban kerja yang harus ditanggung oleh para pekerja saat ini dengan adanya teknologi informasi dan komunikasi, waktu bekerja menjadi melebihi dari yang ditetapkan oleh undang-undang tenaga kerja, yaitu 40 jam per minggu. Namun dalam kenyataannya, dengan masuknya berbagai percakapan pada instant messaging application, dan email yang memiliki urgensi tinggi, maka tentunya harus direspon segera oleh penerimanya. Hal ini secara eksplisit terlihat bahwa jam kerja sifatnya menjadi relatif, dan juga tempat bekerja menjadi relatif, karena respon dapat dilakukan dimanapun selama terhubung dengan jaringan Internet. Berdasarkan penjelasan di atas, maka saya berpendapat bahwa sebenarnya untuk bidang pekerjaan yang sifatnya bukan pekerjaan fisik, seharusnya bisa dijawab bahwa pekerjaan tersebut sudah bisa dikerjakan dimanapun. Hal ini tentunya akan berbeda dengan pekerjaan fisik, yang memang memerlukan kehadiran fisik dan memerlukan tenaga manusia untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut.

Sebagaiman telah dijelaskan di atas, bahwa model pekerjaan yang sifatnya non-fisik atau yang tidak memerlukan interaksi fisik sudah dapat dikerjakan dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi. Namun, demikian tantangan yang muncul adalah di bidang Pendidikan, baik dari tingkat pendidikan anak usia dini (PAUD) sampai dengan pendidikan tinggi. Masalahnya, karena teknologi informasi dan komunikasi memiliki keterbatasan untuk menjawab tujuan pendidikan dalam aspek psikomotor dan aspek afektif. Untuk bidang kognitif, tentunya pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi. Dengan demikian tentunya tidak bisa dipungkiri lagi bahwa model pendidikan berbasiskan online memiliki keterbatasan dalam hal interaksi fisik.

Permasalahan dalam Mendefinisikan “online

Terkait pendidikan berbasis online beberapa waktu yang lalu, sebelum pemerintah mewajibkan WFH, isu pendidikan online seolah-olah tidak dianggap serius. Akan tetapi setelah ditetapkannya status WFH oleh pemerintah, seakan-akan ada rasa kebingungan untuk menyelenggarakan pendidikan secara online. Kebingunan penyelenggaraan pendidikan online, boleh jadi adalah barang baru bagi bidang pendidikan yang belum memiliki aplikasi berbasis online. Akibatnya, penggunaan berbagai aplikasi digunakan untuk memenuhi kebutuhan pemberian bahan ajar.

Masalah yang sebenarnya terjadi adalah tentang bagaimana kita menyepakati definisi belajar secara online, yaitu apakah interaksi secara langsung (live) berbentuk audio visual atau umumnya dikenal dengan video conference, atau model online adalah apapun bentuknya (text atau audio/suara) selama tetap menggunakan perangkat teknologi informasi dan komunikasi? Dalam banyak aplikasi model pembelajaran online ketiga model di atas dikenal, bahkan dalam sebagian kondisi, tetap dilakukan pertemuan tatap muka secara fisik. Artinya, di sini kita harus memiliki pendapat yang sama bahwa model pembelajaran secara online harus bisa diartikan secara luas, bukan berarti di setiap pertemuan dilakukan secara langsung (live) dengan cara video conference.

Berdasarkan penjelasan di atas, sebenarnya model pembelajaran online atau model pembelajaran dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi, sebenarnya bukanlah masalah dalam bidang pendidikan, karena pada prinsipnya model pembelajaran online adalah interaksi belajar mengajar dengan menggunakan teknologi informasi. Selain itu, secara umum penggunaan teknologi informasi dan komunikasi di Indonesia sudah cukup baik, hal ini ditandai dengan telah terbukanya akses Internet di Indonesia pada umumnya. Dalam hal model pembelajaran online yang saat ini berjalan sementara mengikuti model WFH yang ditetapkan pemerintah seharusnya bisa menjadi kesempatan uji coba dan digunakan membangun aplikasi pembelajaran online bagi penyelenggara pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan institusi masing-masing. Dengan dimilikinya aplikasi milik sendiri yang sesuai dengan kebutuhan suatu institusi, maka model pembelajarannya akan mengikuti kebutuhan dari institusi yang bersangkutan.


Published at :

Periksa Browser Anda

Check Your Browser

Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

We're Moving Forward.

This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

  1. Google Chrome
  2. Mozilla Firefox
  3. Opera
  4. Internet Explorer 9
Close