People Innovation Excellence

BANJIR, YANG TERJADI DAN YANG SEHARUSNYA

OLEH AGUS RIYANTO (JANUARI 2020)

Bencana banjir itu datang dan pergi dengan tidak diundang. Datang dapat dikala senang dan berakhir dengan kedukaan. Menangis, meratapi, mengeluh dan bahkan memaki itu adalah ungkapan kekesalan hati manusia yang terkena dampaknya. Di seberang dunia lain tumbuh polemik bagaimana menata dan menangani banjir itu seharusnya. Yang satu berpendapat naturaliasi dan yang lain berpendapat banjir ditangani dengan normalisasi. Kedua potret besar itulah yang terlihat mengemuka dalam dramaturgi banjir yang terjadi di Jakarta dan sekitarnya pada hari pertama tahun 2020. Artinya, yang jelas hadir adalah polarisasi deritanya rakyat karena banjir dan konflik di antara para pemangku kepentingan antara pusat dan daerah. Kemudian yang tumbuh menjadi pertanyaan seberapa penting yang harus dikedepakan di antara keduanya itu ? Secara rasionalitas dan manusiawi, maka derajat yang terpenting didahulukan adalah kepentingan yang terdampak buruk karena akibat banjir itu. Kerugian material (triliunan rupiah) dan immaterial yang jelas cukup besar hingga duka kematian yang mencapai lebih dari 50 orang adalah rentetan kejadian pasca banjir itu yang telah mengahrubirukan pada beberapa wilayah di jadebotabek. Pilihan ini didasari kepada rasa kemanusian dimana penderitian banjir itu juga adalah bagian dari kesedihan bersama seluruh penghuni dunia yang ada di Indonesia. Kepedulian kemanusian ini juga seharusnya menyatukan gerak seluruh masyarakat dan pemerintahan untuk dapat sama-sama melihatnya dengan potret yang sama idealnya.

Namun, yang sulit dipahami ditengah terjadinya banjir, yang telah membuat kepedihan, yang menyeruak ke permukaan adalah kontradiksi dan berpotensi konflik menangani dan menghadapi banjir. Tanpa disadari dengan berbeda pandang keduanya itu memperjelas dan mempertontonkan bahwa akar permasalahan sesungguhnya adalah di titik ini. Dapat dikatakan disamping faktor alam (seperti : hilang daerah resapan air karena permukiman, kebiasaan buang sampah sembarangan, air kiriman dari hulu ke Jakarta, intensitas hujan yang di atas rata-rata, air rob yang berada di hilir yang kembali masuk dan lain-lain) tetapi faktor kebijakan juga telah menjadi penyebab utama tiada akhirnya masalah banjir seperti perjalan jauh yang tiada dimana batas berhentinya. Di pusaran inilah muara yang terjadi sesungguhnya dalam memotret permasalahan bencana banjir. Tarik menarik kepentingan menunjukkan berbedanya titik pandang tentang bagaimana menghadapi dan menangani masalah banjir itu, yang seharusnya tidak perlu terjadi. Kedua kutub yang berbeda seharusnya bersatu dengan mencari jalan keluar mengatasi banjir yang datang kembali setiap tahun ke wilayah ibu kota negara ini. Ketidaksamaan keduanya dengan sendirinya berdampak buruk terhadap warga masyarakat. Ketidakjelasan dalam keputusan para pemangku kekuasaan, baik di pusat maupun daerah,  mengenai bagaimana penanganan banjir dilakukan, tidak menguntungkan masyarakat.

Untuk itu seharusnyalah di dalam penanganan sebelum banjir itu terjadi dibutuhkan keterlibatan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) bidang lingkungan hidup untuk dapat menjadi mata hati masyarakat. Termasuk juga di dalam kelompok ini para akademisi dan pengamat yang memiliki keilmuan yang mumpuni tentang Hukum Lingkungan, Ahli Tata Kota, Sosiologi, Ahli Lingkungan Konservasi Air dan lain-lain. Dengan kerjasama seperti itu sangat dimungkinkanlah tumbuh ide-ide segar dan obyektif menghadapi banjir dan penyelesaiannya. Kesatuan suara di lingkungan kelompok ini dapat menjadi penekan dan pengimbang pemerintah dalam mengatur dan menangani banjir. Termasuk juga berfungsi untuk selalu mengingatkan bahwa penanganan banjir tidak mungkin dapat dilakukan secara mendadak setelah kejadian banjir itu tiba, tetapi dengan manajemen dan prediksi waktu yang memungkinkan kapan hujan itu akan masuk ke ibu kota. Untuk itu dibutuhkan penjelasan yang ilmiah dan komprehensif tentang banjir dan permasalahan yang terjadi. Dengan keahliannya dapat dikeluarkan hasil-hasil kajian ilmiah yang dapat dijadikan masukan kepada pemerintah sebagai bahan pertimbangan kebijakan. Dalam rangka itu hasil-hasil penenilitian, sebaiknya, disosialisasikan kepada masyarakat melalui media cetak dan media sosial sebagai bahan dasar memutuskan dan menangani banjir dalam konteks ilmiah itu bagaimana. Keterlibatan media televisi dibutuhkan pula untuk dapat menjelaskan lebih dalam visualiasi cerita dan contoh sederhana di kehidupan dalam realitasnya. Televisi dan radio perlu konsisten terus menerus memberitakan ramalan cuaca dalam berita pagi, siang, sore dan malam sebagai wujud keterlibatan memberitakan kondisi terakhir tentang bagaimana cuaca terakhir yang terjadi.

Seharusnyalah dapat dipahami bahwa banjir adalah fenomena alam yang secara rutin akan terjadi setiap tahunnya dan sudah seharusnya diantisipasi. Banjir, secara keilmuan, dapat diantisipasi siklusnya, yang berbedalah dengan bencana alam seperti gempa bumi misalnya, sehingga idealnya dapat diantisipasi. Yang jelas air akan menghampiri rumah-rumah dari dataran tanah yang tinggi meluncur ke bawah dengan keadaan dimana air di dalam jumlah besar tidak tertampung oleh sungai-sungai yang dangkal dalam periode musim penghujan. Berangkat kondisi alamiah ini, maka yang patut dicatat bahwa sumber air yang jelas asalnya adalah dari hulunya yang diperhatikan mencatat masalahnya. Dari hulu inilah yang harus menjadi perhatian bersama bahwa tidak mungkin dapat menolak turunnya hujan atau berbalik arah ke atas atau hulu. Namun, dengan ilmu pengetahuan air dapat dilokalisasi dengan membentuk bendungan besar di hulunya, sehingga air dapat berkurang  sebelum masuk ke bawah ke daerah khusus ibu kota. Untuk itu pilihan dengan membuat penampungan air yang besar dalam perhitungan tekhnis operasional dapatlah dibenarkan. Artinya, air dalam jumlah besar akan dibelokan sebelum meluncur deras ke arah daratan tanah di bawahnya. Di tengah perjalanan air melalui sungai-sungai periodik harus diperdalam untuk mengurangi pendangkalan. Dangkalnya sungai menjadi indikasi jelas bahwa air meluap keluar sungai jelas akan terjadi. Melalui konstruksi alamiah ini, maka kebutuhan mendesak untuk melebarkan sungai adalah keharusan yang tidak dapat dihentikan lagi. Hal ini, karena banjir menjadi ancaman yang tidak jelas kapan hadirnya dan sebelum itu terjadi yang terburuk tiba harus dilakukan pencegahan dengan melakukan usaha-usaha memperluas jalannya air untuk bergerak. Tanpa hal ini, sampai kapapun juga banjir dengan berpikir sederhana pasti akan datang ke rumah dan pekarangan kehidupan manusia setiap saat. Di penghujung atau hulu airnya dibutuhkan tanggul raksaksa yang akan dapat menahan air pasang (rob) yang akan dapat menahan masuknya air ke pesisir sekitar pantai dan sekaligus juga memberikan jalan bergeraknya air dari hulu ke tempat terakhir akhir yang paling rendah akan menyusur terus ke bawah atau tempat berlabuh air akan bermuara kembali ke laut. Dengan mengikuti bergeraknya air yang selalu berjala dari atas ke bawah, maka proses jatuhnya air dari hulu, dalam perjalan dan hingga akhir ke hilir adalah jelas proses alamiah yang akan terjadi dengan siklus yang akan berulang dan kembali sesuai dengan datangnya periode musim penghujan. Untuk kebutuhan itu jelas bahwa pemahaman alamiah dan kecepatan bertindak adalah tidak dapat dihindari lagi apabila berkehendak untuk setidak-tidaknya dapat mengurangi dampak buruk meluapnya air sebagaimana yang terjadi di hari pertama 2020 itu terjadi.

Penutup, yang patut disadari bersama bahwa jangan salahkan alam, tapi pakailah akal di dalam menghadapinya. Melalui pendekatan ini dampak buruk dari padanya alam akan dapat dihindari atau setidak-tidaknya meminimaliasasi efek negatifnya kerusakan banjir yang akan selalu mengintai hidup dan kehidupannya manusia. Untuk masyarakat umum tidak terlalu penting memperdebatkan antara normalisasi atau naturalisasi yang selama ini terjadi silang sengketa ide penanganan dan penataan banjir. Yang terpenting adalah adanya kejelasana bagaimana menghadapinya, dengan hasil pada titik akhirnya adalah masyarakat terhindar dari banjir sebagai tujuan utamanya. Garis bawah yang seharusnya ditekankan adalah janganlah ada gengsi politik dalam penanganan banjir yang nanti pada akhinya kegengsian itu akan dapat menyengsarakan rakyat. Selalu berpikirlah bahwa dalam penanganan dan penatalaksanakan banjir tujuan utamanya adalah untuk dapat mengurangi dan menekan ekses negatif dari banjir. Berbuatlah demi kepentingan yang lebih besar dan tidaklah berbuat menangani berlatar belakang niat-niat politik untuk demi ke depannya berebut kekuasaan untuk berkuasa dengan cara-cara yang tidak terpuji. Banjir dan banjir akan tetap hadir dan karenanya tanganilah banjir dengan niat suci dan baik demi kebaikan dan kehidupan manusia yang dapat hidup dengan alam banjir yang terkendali dan terencana dengan terstruktur, terenaca, terkendali dan cepat tanggap untuk menyelesaiannnya. Semoga banjir sebagai berkah alam dapat disipaki dengan lebih baik dan dalam sebagai bagian kehidupan dalam episodenya manusia menjalani hidup dengan ujian akan banjir yang harus dihadapainya secara rasional dan tidak emosional kebencian terhadap lawan-lawan yang tidak sejalan denganya. Utamakanlah kepentingan rakyat dan warga sebagai dasar keinginan untuk berbuat yang terbaik untuknya. Janganlah dilebur, karena motif-motif lainnya. Semoga tidak seperti itu (***).


Published at :

Periksa Browser Anda

Check Your Browser

Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

We're Moving Forward.

This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

  1. Google Chrome
  2. Mozilla Firefox
  3. Opera
  4. Internet Explorer 9
Close