People Innovation Excellence

LOGIKA KESEIMBANGAN DAN RELATIVITAS DALAM PERSPEKTIF HUKUM

Oleh SHIDARTA (Agustus 2016)

Falsafah Timur yang datang dari daratan Tiongkok mengajarkan tentang konsep keseimbangan dan relativitas dalam alam semesta. Dalam tiap fenomena, selalu ada dua sisi yang berhadapan, tetapi sekaligus saling melengkapi. Dalam terminologi filsafat, dua sisi dikotomis ini kerap disebut dengan antinomi. Relativitas ketimuran ini biasa disebut “Yin” dan “Yang” ( 陰陽), yang kerap diilustrasikan dalam bulatan dua warna, balutan hitam dan putih yang sama luasnya. Di dalam yin (putih) ada yang (titik bulat hitam), demikian sebaliknya. Keduanya bergerak menuju satu titik ke titik yang lain, dan akan terus bergerak untuk kembali lagi ke titik garis permulaan.

Konon diagram ini ditemukan pertama kali dalam kuburan kuno Fu Yi di Provinsi He Nan. Diagram ini mampu menggambarkan tentang keseimbangan alam semesta. Falsafah kuno ini menunjukkan betapa konstelasi alam semesta ini telah tersaji pada hukum-hukum keseimbangan itu, sehingga perilaku manusia juga tidak dapat mengelak dari ketaklukannya pada pola-pola harmonisasi demikian. Bumi dan langsit, malam dan siang, gelap dan terang, lunak dan keras, damai dan perang, negatif dan positif, terus silih berganti. Namun, tidak boleh ada kemutlakan di sini. Kemutlakan adalah suatu kelemahan! Ibarat kemarau, ia tidak boleh berkepanjangan sampai menguasai pergantian musim, karena pasti mendatangkan bencana kekeringan.

Sering disalahpahami bahwa Yin dan Yang ini mengasumsikan perbedaan gender yang mendudukkan perempuan di posisi Yin yang lemah, lunak, dan negatif. Dalam buku karya Lao Zi berjudul “Dao De Jing” tidak berpendapat demikian. Unsur yang lunak justru mampu menaklukkan yang keras. Air hujan yang jatuh tetes demi tetes ternyata mampu melubangi batu yang keras. Molekul oksegen tanpa bentuk dan lembab udara mampu mengeroposkan besi. Yin-Yang bukan mengintroduksi relasi dominasi-subordinasi, tetapi relasi keseimbangan. Relasi keseimbangan tidak berarti selalu rasio komparasinya satu berbanding satu, tetapi rasio relativitas. Di dalam relativitas ini ada momen-momen tertentu yang memungkinkan satu unsur dikedepankan dibandingkan dengan yang lain, tetapi tidak ada dominasi dan kemutlakan.

Selain falsafah Tiongkok, falsafah India juga berbicara tentang pentingnya logika keseimbangan. Bahkan lebih jauh, falsafah India, khususnya Hinduisme, menyatakan pada satu titik antara keberadaan (existence; beingness) dan ketidakberadaan (non-existence; non-beingness) akan menjadi identik. Di dalam keberadaan yang sempurna, di situ justru ada ketidakberadaan yang sempurna. Dengan perkataan lain, di dalam kesempurnaan itu sekaligus tergambarkan ketidaksempurnaan. Untuk menunjukkan kesempurnaan, dapat ditunjukkan ketidaksempurnaannya. Ibarat seorang pematung yang ingin sekali membuat karya yang sempurna; ia akan sampai pada titik yang memposisikannya tidak pernah mampu melakukannya karena selalu saja ada yang tidak sempurna di dalam karyanya. Artinya, kesempurnaan karya itu adalah ketidaksempurnaannya juga.

Logika relativitas seperti di atas ditolak oleh logika biner yang konon digadang-gadangkan oleh filsafat Barat. Dalam logika biner tidak ada pilihan ketiga. Malam dan siang adalah dua hal berbeda, bahwa tidak ada malam di dalam siang, dan sebaliknya juga demikian. Dalam logika biner gerakannya tidak pernah bergerak ke titik awal, seperti perputaran bola Yin-Yang, melainkan berpola linear dari satu titik ke titik berikutnya.

Logika biner ini memang memberi kontribusi penting dalam epistemologi hukum, ketika metode penafsiran hukum dianggap perlu bermuara pada kejelasan makna, yakni pada makna monolitis dan univok. Pencurian di malam hari harus dibedakan dengan pencurian di siang hari. Tidak boleh ada pencurian yang masuk ke dalam kedua kategori itu sekaligus, atau tidak masuk di kedua-duanya.

Namun, jika hukum diarahkan kepada dimensi aksiologisnya, terlihat bahwa hukum tidak selalu berjalan mengikuti logika biner. Ada pepatah Latin yang sebenarnya sudah keluar dari logika biner itu, yang mengajarkan bahwa di dalam keadilan (=persamaan perlakuan) itu justru terkandung ketidakadilan (=persamaan nilai). Summun jus summa injuria. Apabila semua orang diperlakukan sama menurut bunyi teks hukum positif, maka perlakuan itu justru akan melukai orang itu sedalam-dalamnya. Hal ini dapat dipahami karena pendekatan tekstual terhadap hukum akan mengorbankan kontekstualitasnya. Teks mengedepankan kesamaan, sementara konteks menonjolkan ketidaksamaan.

Pertanyaannya adalah apakah hukum perlu mengedepankan kesamaan atau ketidaksamaan? Falsafah ketimuran justru lebih mampu menjawabnya bahwa hukum harus menghormati keduanya, tetapi dalam tataran berbeda. Secara teoretis hukum penting mengajarkan kesamaan dan kemutlakan, tetapi tatkala hukum berhadapan dengan kasus-kasus konkret, perspektif kemutlakan ini membutuhkan penyesuaian. Teks-teks hukum harus direlatifkan mengikuti nuansa konteks kasus-kasus konkret itu. Hanya demikian hukum akan menjadi berwibawa! (***)


SHD

 

 

 

 


Published at :

Periksa Browser Anda

Check Your Browser

Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

We're Moving Forward.

This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

  1. Google Chrome
  2. Mozilla Firefox
  3. Opera
  4. Internet Explorer 9
Close