People Innovation Excellence

KORELASI PERADABAN MANUSIA DAN TEKNOLOGI

Oleh AGUS RIYANTO (Februari 2016)

Manusia tidak dapat lepas dari perkembangan teknologi, yang dalam istilah Roger Filder disebut koeksistensi dan koevolusi. Hal ini diperjelas oleh Hikmahanto Juwana dengan pendapat bahwa kehidupan manusia tidak dapat dilepaskan dari kemajuan teknologi. Ketergantungan itu menempatkan teknologi menjadi kebutuhan primer dan bukan lagi sekunder, sehingga teknologi itu adalah keniscayaan yang tidaklah mungkin dapat ditolak kehadirannya.

Guru Besar Filsafat Sekolah Tinggi (STF) Diriyakara, Franz Magnis-Suseno, berpendapat ada dua alasan mendasar mengapa manusia tidak dapat menolak teknologi. Pertama, manusia modern tidak dapat menjamin pemenuhan kebutuhan dasarnya tanpa hadirnya teknologi. Kedua, kemenangan budaya teknologi sudah tidak dapat digagalkan lagi. Hal ini menjadikan manusia tidak memilki alternatif lain selain harus mempelajari sekaligus menguasai teknologi, serta harus memanfaatkannya untuk dapat memecahkan masalah-masalah yang dihadapi manusia. Bertitik tolak dari ini, maka tidaklah ada alas hak untuk menolak teknologi dan teknologi telah diterima menjadi bagian hidup dan kehidupan manusia.

Diterimanya teknologi sebagai bagian tidak terpisahkan manusia berangkat dari sejarah kehidupan manusia itu sendiri yang selalu berusaha menciptakan teknologi untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Teknologi yang diciptakan oleh manusia akanlah selalu berkembang sesuai peradaban manusia. Sejarah peradaban manusia dimulai dengan kehi-dupan yang sederhana. Pada mulanya manusia hanya membutuhkan makanan dan tempat berlindung menopang hidupnya dari hari ke hari, tidak ada perencanaan masa depan waktu itu. Kehidupan manusia yang berkembang semakin maju dan membentuk peradaban yang menurut Alfin Toffler di dalam bukunya The Third Wave [William Morrow & Company New York, 1980] menjadi tiga gelombang peradaban manusia, yaitu gelombang pertama, yang juga disebut gelombang pembaharuan, manusia menemukan dan menerapkan teknologi pertanian. Dengan itu, manusia yang semula hidup berpindah-pindah untuk mengumpulkan hasil hutan hasil hutan menjadi suka tinggal menetap di suat tempat yang lalu disebut desa. Ciri gelombang ini adalah manusia menggunakan energi yang sudah disediakan alam, seperti yang terdapat pada otot binatang, matahari, angin dan air, yang semuanya dapat diperbaha-rui. Gelombang kedua, yakni zaman revolusi industri yang ditandai beralihnya manausia ke energi tak terbarukan, seperti minyak, batu bara dan gas. Selain itu, dalam masa ini telah ditemukan mesin, diawali dengan mesin uap, yang tidak saja dapat menggantikan otot manusia, tetapi juga dapat dipadukan menjadi pabrik yang lalu menghasilkan barang produksi dan konsumen. Gelombang ketiga, yakni zaman informasi yang ditandai dengan suat peradaban yang di dukung oleh kemajuan teknologi komunikasi dan juga pengolahan data, penerbangan dan aplikasi angkasa luar, energi alternatif dan energi terbarukan serta rekayasa genetik dan bioteknologi, dengan komputer dan mikroelektronika sebagai dasar teknologi intinya.

Berdasarkan ketiga kategori tersebut dapat disimpulkan bahwa modernnya suatu peradaban manusia berkorelasi dengan teknologinya. Teknologi yang tidak dapat mundur ke belakang, tetapi maju ke depan bersamaan dengan peradaban manusia. Kemajuan peradaban dalam gelombang ketiga ini terlihat dengan hadirnya internet [interconnected-networking] sebagai bagian revolusi teknologi manusia di akhir abad ke XXI ini, yang terbentuk konvergensi teknologi komputer dengan telekomunikasi, telah berhasil melahirkan teknologi baru yang besar pengaruhnya terhadap kehidupan manusia. Kehidupan yang seharusnya menjadi lebih baik dan beradab, serta tidak sebaliknya dengan keadaban itu telah hilang dan tenggelam bersamaan dengan ketidakpahaman perkembangan teknologinya itu sendiri. Semoga tidak. (***)

Sumber Bacaan:

  • Roger F. Filder, Mediamorphosis: Understanding New Media, Pine Forge Press, United Kingdom, 1977.
  • Hikmahanto Juwana, Aspek Penting Pembentukan Hukum Teknologi Informasi di Indonesia, Bunga Rampai Hukum Ekonomi dan Hukum Ekonomi Internasional, Lentera Hati, Jakarta, 2002.
  • Franz Magnis-Suseno, Pijar-pijar Filsafat: dari Gatholoco ke Filsafat Perempuan, dari Adam Muller ke Postmoderinisme, Kanisius, Yogyakarta, 2005

 

Screen.Shot.2015.08.10.at.06.57.18


Published at : Updated

Periksa Browser Anda

Check Your Browser

Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

We're Moving Forward.

This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

  1. Google Chrome
  2. Mozilla Firefox
  3. Opera
  4. Internet Explorer 9
Close