People Innovation Excellence

SEMANGAT ZAMAN

Oleh SHIDARTA (November 2014)

Tatkala sebuah organisasi massa berdemo mendesak agar seorang pejabat pelaksana tugas gubernur tidak jadi dilantik menjadi gubernur definitif dengan alasan bahwa yang bersangkutan bukan seorang Muslim, ingatan saya segera mengarah ke catatan harian Ahmad Wahib (1942-1973). Catatan ini dihimpun dalam satu buku berjudul “Pergolakan Pemikiran Islam” (LP3ES, Jakarta, 2003). Ahmad Wahib adalah aktivis Islam yang kerap disandingkan dengan tokoh pemberontak Soe Hok Gie, yang kebetulan sama-sama mati di usia muda dan juga sama-sama populer dengan publikasi diary reflektif mereka.

Saya temukan catatan menarik terkait isu agama dalam jabatan pemimpin itu pada goresan pena Ahmad Wahib di tanggal 15 Juli 1969. Berikut adalah kutipan lengkap catatannya:

“Saya sangat tidak setuju akan cara-cara orang-orang menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an. Saya melihat bahwa Asbabun Nuzul atau semangat zaman waktu turunnya ayat itu kurang dilihat. Sungguh saya benci pada pemerkosaan ayat-ayat Al-Qur’an dan lafal-lafal Hadist sekarang ini dalam pemakaian maupun penafsiran. Biar, aku akan menempuh jalanku sendiri. ‘Katakanlah kebenaran, walau karihal kafirin, walau karihal musyrikin’. Juga: ‘Mengapa kamu angkat orang-orang kafir menjadi pemimpin-pemimpin Islam?’. Ayat-ayat Al-Qur’an semacam ini digunakan oleh propagandis-propagandis kita untuk membakar semangat massa. Mereka kurang sadar perbedaan antara situasi di zaman Nabi dengan situasi sekarang. Di zaman Nabi golongan Nabi betul-betul baik sedang golongan kafir betul-betul jahat. Di zaman sekarang golongan kita antara baik-jahat, sedang golongan lawan pun antara baik-jahat. Bukankah konstelasi spiritualnya sudah lain? Bukankah secara material kita juga sebagain telah kafir, walaupun formal Islam? Jadi penggunaan ayat-ayat itu tidak tepat lagi. Kembalikanlah pada konstelasi di zaman Nabi, baru kita berhak menggunakan ayat tersebut. Sekarang kita tidak berhak. Saya malah berpendapat bahwa andaikata Nabi Muhammad datang lagi di dunia sekarang, menyaksikan bagian-bagian yang modern dan yang belum serta melihat pikiran-pikiran manusia yang ada, saya berkepastian bahwa banyak di antara hadist-hadist Nabi yang sekarang ini umumnya difahami secara telanjang oleh pengikut-pengikutnya, akan dicabut oleh Nabi dari peredaran dan diganti dengan hadist-hadist yang baru.”

Dalam kajian hermeneutika, pendekatan Ahmad Wahib termasuk sejalan dengan pemikiran Wilhelm Dilthey (1833-1911) yang menyatakan hermeneutika adalah tafsiran sistematis terhadap pengalaman manusia. Setiap manusia memang tak mungkin lepas dari sejarah (historisisme). Biasanya, penafsir selalu dibatasi pada konteks ruang-waktunya sendiri. Untuk itu, Dilthey menyarankan agar penafsir teks harus benar-benar memahami konteks sejarah saat teks muncul pertama kali. Dilthey menghimbau agar penafsir mengalami transisi historis terlebih dulu sehingga suatu penafsiran objektif dapat dihadirkan.

Jadi ada teks dan konteks. Teks sebagai interpretandum tidak akan produktif apabila tidak diberi koridor ruang dan waktu. Konteks ruang dan waktu inilah yang menjadi bingkai yang memberi energi produktif bagi proses pemaknaan itu. Ahmad Wahib menyebutnya dengan istilah ‘semangat zaman’.

Semangat zaman saja ternyata tidak cukup apabila kegiatan penafsiran tidak dilandasi oleh itikad baik. Dalam hermeneutika, asas itikad baik merupakan pintu masuk yang sangat penting dalam rangka menghasilkan interpretasi yang mencerahkan, dan tidak justru mengerdilkan. Dalam sejarah perpolitikan di Tanah Air, misalnya, ada satu partai politik yang menggunakan teks agama dengan mengharamkan seorang wanita menjadi presiden di Indonesia. Ironisnya, ketika angin politik berganti haluan, partai ini pula yang kemudian mencalonkan pemimpinnya menjadi wakil dari presiden wanita itu. Argumentasi agamis yang semula kencang dihembuskan, langsung sontak sunyi senyap. Inilah yang barangkali dinyatakan oleh Ahmad Wahib sebagai penafsiran para propagandis.

Oleh karena agama manapun dilahirkan tanpa tanggal kadaluwarsa, maka semangat zaman ini menjadi sangat penting untuk dilekatkan dalam setiap tindakan hermeneutis. Apabila semangat zamannya berubah, maka teks menuntut penyesuaian. Hanya dengan demikian sebuah teks, termasuk teks kitab suci dan teks derivasinya, akan bertahan dalam menyiasati zaman.  Apabila tidak dilakukan, maka sia-sialah setiap agama memaklumatkan pandangan bahwa nash-nash agamanya berlaku perenial. Seperti halnya juga dalam penganut agama Islam yang menyakini:  ‘Al-Islâmshâlih li kullizamân wamakân.’ (***)

 


Published at :

Periksa Browser Anda

Check Your Browser

Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

We're Moving Forward.

This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

  1. Google Chrome
  2. Mozilla Firefox
  3. Opera
  4. Internet Explorer 9
Close